Agen Casino Online Agen Judi Poker Agen Casino Sbobet Agen Poker Online Agen Bola Terpercaya Agen Poker Terpercaya Agen Poker Terbaik

LAPORAN DARI MARSEILLE: Zidane dan Euforia Payet

LAPORAN DARI MARSEILLE: Zidane dan Euforia Payet

LAPORAN DARI MARSEILLE: Zidane dan Euforia Payet

Kumpulan Bandar Judi Online Terbaik – Jakarta – Dimitri Payet tak pelak lagi menjadi pahlawan baru di Prancis saat ini. Ketika menyumbang gol pada menit terakhir saat melawan Rumania dalam laga pembukaan Euro 2016, warga Prancis memang seperti terkena demam euforik.

Payet pun menjadi hero yang tak terduga. Dia menggulingkan sosok Paul Pogba yang sudah lebih dulu beredar di orbit sebagai bintang Piala Eropa kali ini. Kehebatan Payet kemudian dibanding-bandingkan dengan legenda sepak bola dari negeri itu, Zinedine Zidane.

Lihat saja di media sosial. Para netizen ramai memperbincangkan keduanya. “Mengingatkan saya kepada Zidane ketika menembus gol Brasil dalam Piala Dunia 2006.” Atau, “Dimitri Payet bermain àla Zidane di Euro 2016.”

Celotehan lainnya tak berbeda. “Gol pada menit terakhir mirip gol Zidane dalam laga pembukaan Euro 2004 melawan Inggris”. Atau, “Payet melakukan apa yang tidak pernah kita saksikan sejak Zidane pada 2006.” Bahkan ada yang menulis, “Kenapa Zidane memakai baju biru bertulisan ‘Payet’?”

Sial, memang. Siapa pun kini yang bermain untuk Prancis serta-merta dibanding-bandingkan dengan Zidane. “Dia sudah menjadi ikon, legenda hidup di dunia sepak bola Prancis. Payet belum sampai pada level itu,” kata Kamel Kourane, bekas tetangga dan teman masa kecil Zidane.

“Membandingkan Zidane dengan Payet menurut saya terlalu berlebihan,” kata Kamel, yang bersama dengan Farid Zidane mengelola L’Association des Jeunes de Nouvelle Vague, asosiasi sepak bola yang didirikan oleh Zidane khusus untuk generasi muda di La Castellane. Bagi Kamel, apa yang dicapai Zidane saat ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor eksternal yang tidak dimiliki oleh pemain lain.

Faktor eksternal itu berkaitan erat dengan perjalanan hidupnya. Zidane tumbuh di La Castellane, 15 kilometer di utara Marseille. Itu adalah wilayah yang jauh dari jangkauan otoritas dan aparat keamanan Marseille. La Castellane punya reputasi sebagai daerah yang rawan peredaran obat-obatan terlarang dan jual-beli senjata.

Ghilas Larbi, salah seorang pelatih di L’Association des Jeunes de Nouvelle Vague, mengatakan tidak mudah bagi anak-anak untuk tumbuh sehat secara psikologis di La Castellane. “Tapi Zinedine adalah pengecualian,” kata dia.

Dengan dukungan keluarganya, Zidane mampu keluar dari situasi itu.

“La Castellane membentuk pribadi Zizou (julukan Zidane) untuk menjadi pekerja keras sekaligus paham menganalisis bagaimana menghindar dari masalah,” kata Kamel.

Baca Juga : Gol Radja Nainggolan Bawa Belgia ke 16 Besar

Zidane pun tumbuh sebagai pribadi yang tak suka pamer. Jika para superstar sepak bola senang menunjukkan mobil-mobil mahal keluaran terbaru atau rumah mewah yang baru mereka beli, sebaliknya dia menjaga agar semua yang terkait dengan keluarganya tidak sampai ke tabloid-tabloid yang haus gosip. Zizou memang selalu sepi dengan skandal.

“Zizou jelas berbeda dibanding para pemain sepak bola di Tim Biru, khususnya Dimitri Payet, yang berkali-kali diadili karena kesenangannya mengebut mobil mewah. Payet mungkin punya talenta yang bisa menyamai Zizou di atas lapangan, tapi ia akan kesulitan menyamai pencapaian karier Zizou,” kata Kamel.

Itulah yang membuat pesona Zidane tak lantas tergantikan hanya dengan dua gol dari Dimitri Payet.